XOBBIX Category

IMM Membuat Kader Eksak Memiliki Wawasan Humanis
Written by Administrator    Friday, 01 June 2007 21:00    PDF Print E-mail

IMM Membuat Kader Eksak Memiliki  Wawasan Humanis

Yogyakarta-“ IMM membuat kader eksak seperti saya jadi mengerti tentang manusia” demikian ungkapan Nurul Afidati, kader IMM Komisariat Ibnu Sina Universitas Diponegoro kepada imm.or.id via voice chat yahoo messenger jum’at malam (01/06/2007). Menurut mahasiswa program master Departement Marine Business and Economics Pukyong National University Busan, Korsel ini, selama dia aktif di IMM dulu, dia yang menekuni ilmu kelautan tidak merasa terpinggirkan dengan mainstream wacana IMM yang jarang sekali menyentuh basis keilmuannya.

Menurut Nurul, dengan wacana IMM yang banyak berkutat pada masalah agama , manusia dan negara itu harusnya bisa memperkaya wawasan kader IMM, walaupun dia dari eksakta.”Mungkin ini juga yang membuat saya sekarang mudah menekuni masalah ekonomi” terangnya. “Bahkan walaupun dulu saya di ilmu kelautan, saat ini mudah sekali membahas masalah masalah kebijakan dalam program master saya” lanjut kader alumni Ponpes Darul Arqom Garut asal kauman Yogyakarta ini.

Dalam pandangan Nurul, IMM sudah cukup baik dalam memfasilitasi kadernya untuk berkembang , khususnya dalam mengasah pemikiran. Hal ini menjadi keunggulan IMM yang dia rasakan. Namun menurut dia, di IMM kurang banyak bisa berbuat. “Baik sekali berfikir dan berwacana, namun mbok ya juga berbuat” lanjutnya dalam logat jawa yang medok, walaupun jum’at pagi ini baru saja dinobatkan jadi juara dua  lomba bahasa Korea di Busan.

Menurutnya, bangsa kita bisa belajar dari bangsa korea. Bangsa Korea memiliki tradisi kerja, berbuat yang cukup bagus. Hal ini yang kurang bagi bangsa kita, termasuk kalangan Muhammadiyah dan IMM.

Masih ingin melanjutkan ke program doktor

Kader IMM yang mengaku lupa jabatannya ketika aktif di Komisarita Ibnu Sina UNDIP  ini, berangkat ke Korea Selatan dengan program beasiswa. Saat ini  dia juga menjadi asisten profesor di kampusnya, hingga program masternya baru akan berakhir agustus 2008. Ketika di konformasi apakah masih berminat melanjutkan ke program doktor, dengan mantap dia menjawab ”Iya”. ” Dua tahun sepertinya kurang” demikian dia menutup pembicaraan (arif)